Indonesia Diperkirakan Tetap Bertahan di Status Emerging Market MSCI Meski Hadapi Penurunan pada Aspek Information Flow
2 min read
Jakarta – Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan statusnya sebagai Emerging Market (EM) dalam MSCI Market Classification Review yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026. Penilaian tersebut didasarkan pada hasil MSCI Accessibility Review terbaru yang menunjukkan fundamental aksesibilitas pasar modal Indonesia masih berada pada level yang kompetitif dibandingkan negara berkembang lainnya.
Dalam penilaiannya, MSCI menggunakan 18 kriteria untuk mengukur tingkat aksesibilitas suatu pasar. “Hasil evaluasi ditampilkan melalui tiga kategori penilaian, yaitu “++” yang menandakan kesesuaian dengan praktik terbaik global tanpa isu signifikan, “+” yang menunjukkan masih diperlukan peningkatan, serta “-” yang mengindikasikan adanya perhatian khusus untuk perbaikan,” kata pengamat pasar modal, Hans Kwee.
Berdasarkan laporan terbaru, Indonesia memperoleh 10 indikator dengan nilai “++”, 6 indikator bernilai “+”, dan hanya 2 indikator bernilai “-”. “Capaian tersebut menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara berkembang seperti India, Korea Selatan, Filipina, Taiwan, dan Thailand. Di kawasan Asia, hanya Hong Kong dan Malaysia yang memiliki komposisi penilaian lebih baik,” ucap Hans.
Dibandingkan dengan Vietnam yang saat ini dinilai berpotensi naik kelas menjadi Emerging Market, posisi Indonesia dinilai jauh lebih unggul. Vietnam hanya mencatatkan enam indikator bernilai “++”, empat indikator “+”, dan delapan indikator “-”, menunjukkan masih terdapat sejumlah aspek yang memerlukan pembenahan.
Meski demikian, terdapat satu perubahan penting dibandingkan hasil penilaian tahun sebelumnya. Pada Accessibility Review 2026, indikator Information Flow mengalami penurunan dari kategori “+” menjadi “-”. Sementara itu, seluruh indikator lainnya tetap mempertahankan posisi yang sama seperti tahun sebelumnya.
Sejumlah pihak menilai penurunan pada aspek tersebut telah direspons oleh regulator melalui agenda reformasi pasar modal yang dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organizations (SRO). Dengan implementasi reformasi tersebut, indikator Information Flow diperkirakan berpotensi kembali meningkat pada evaluasi berikutnya.
Adapun sepuluh indikator yang memperoleh nilai tertinggi “++” meliputi Investor Qualification Requirement, Foreign Ownership Limits (FOL) Level, Foreign Room Level, Capital Flow Restrictions Level, Investor Registration & Account Set-up, Market Regulations, Custody, Registry/Depository, Trading, serta Availability of Investment Instruments.
Menariknya, pada indikator Foreign Ownership Limits dan Foreign Room, Indonesia justru memperoleh nilai “++” yang lebih baik dibandingkan Hong Kong dan India yang masing-masing hanya memperoleh penilaian “-”.
Selain aspek aksesibilitas, MSCI juga mempertimbangkan dua faktor utama lainnya dalam menentukan klasifikasi pasar, yakni perkembangan ekonomi serta ukuran dan likuiditas pasar modal. Dari sisi ukuran dan likuiditas, Indonesia saat ini memiliki 11 saham yang memenuhi persyaratan MSCI, jauh melampaui ambang batas minimum yang hanya mensyaratkan satu saham.
Dengan kondisi tersebut, penurunan pada satu indikator aksesibilitas dinilai tidak cukup untuk memicu reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Prospek yang paling mungkin terjadi pada MSCI Market Classification Review tahun ini adalah Indonesia tetap mempertahankan status Emerging Market, disertai dengan pencabutan status interim freeze yang saat ini masih berlaku. Meski demikian, terdapat pula kemungkinan Indonesia tetap berada di kategori Emerging Market namun status interim freeze belum dicabut.
Di sisi lain, keberadaan interim freeze dinilai tidak lagi memberikan tekanan signifikan terhadap pasar saham domestik. Sebagian besar penyesuaian terhadap saham-saham Indonesia yang terdampak kebijakan tersebut telah terjadi sebelumnya. “Saat ini, dampak utama interim freeze lebih berupa tertundanya peluang emiten Indonesia untuk masuk ke dalam indeks MSCI pada periode peninjauan berikutnya, termasuk pada review Agustus mendatang,” kata Hans.
