Lebih dari Kopi, Ini Cara Sekata Kopi Menjadi Ruang Komunitas
3 min read
Medan – Hantaman pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu sempat melumpuhkan berbagai sektor usaha, termasuk industri kreatif yang digeluti Muhammad David. Pria asal Medan yang semula menggantungkan roda bisnisnya pada sektor event organizer (EO) justru berhasil menemukan peluang baru di industri food and beverages (F&B).
Meski demikian, situasi sulit itu justru memantik naluri kewirausahaan David untuk bergerak lebih lincah. Lewat riset pasar yang mendalam, ia sukses beralih haluan dengan mendirikan Sekata Kopi. Mengusung konsep kehangatan layaknya “Rumah Kedua”, coffee shop ini kini berkembang pesat menjadi salah satu ruang komunitas bagi para pencinta kopi di Kota Medan, Sumatera Utara.
Bangkit dari Pandemi lewat Riset dan Strategi “Rumah Kedua”
Keputusan David melompat ke industri F&B bukan tanpa perhitungan. Sebelum pandemi, ia sempat mengelola bisnis F&B dengan modal yang menyentuh angka miliaran rupiah. Namun, sebuah momen di warung seafood pinggir jalan mengubah cara pandangnya tentang modal dan efisiensi bisnis.
“Saya duduk di seafood pinggir jalan melihat karyawannya 6 orang. Tapi omzetnya sama dengan kita yang modalnya miliaran rupiah ini. Dari situ saya melihat, membangun bisnis F&B itu tidak perlu uang yang gede-gede, sih. Tapi yang paling penting adalah riset dan konsep yang pas,” ujar David mengenang awal mula ketertarikannya pada konsep bisnis yang efisien.
Ketika pandemi melanda, David memantapkan niat untuk membuka coffee shop. Tidak tanggung-tanggung, ia melakukan riset ke 15 coffee shop di Jakarta dan 5 coffee shop di Medan. Targetnya saat itu sangat spesifik, membangun bisnis coffee shop yang matang dengan modal di bawah Rp150 juta. Pilihan jatuh pada kopi karena David melihat komoditas ini telah bergeser dari sekadar tren menjadi sebuah kebutuhan mendasar masyarakat Indonesia.
Coffee shop sendiri sudah menjamur di Kota Medan. Bahkan, David berseloroh hampir setiap jarak 5 meter terdapat coffee shop. Di tengah ketatnya persaingan usaha, Sekata Kopi mampu bertahan karena fokus pada kenyamanan emosional konsumen lewat konsep suasana toko yang sangat homey.
“Bagaimana caranya kita buat yang feel like home. Mulai dari barista yang menyambut konsumen layaknya kawan. Jadi ketika jalan ke sini kayak, oke, saya balik ke rumah. Kalau saya enggak di rumah, ya saya punya rumah kedua yaitu Sekata Kopi. Kita tidak hanya menjual kopi, tapi seperti hashtag kita sebagai rumah kedua,” tutur David.
Strategi ini terbukti ampuh. Dengan berfokus pada keramahtamahan dan komunitas, Sekata Kopi tidak lagi memandang coffee shop lain sebagai saingan, melainkan sebagai sesama penopang industri F&B. Berbagai komunitas, mulai dari pencinta olahraga hingga komunitas lokal lainnya kini rutin menjadikan Sekata Kopi sebagai tempat berkumpul.
Inovasi dan Keberanian Mengeksekusi Peluang
Salah satu daya tarik unik yang membuat Sekata Kopi kian adaptif dengan kebutuhan konsumennya adalah melakukan inovasi dengan menghadirkan area khusus untuk produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik atau vape dan produk tembakau yang dipanaskan. David mengungkapkan, ide ini lahir murni dari pengamatan langsung terhadap perilaku konsumennya yang banyak beralih menggunakan produk yang tidak dibakar tersebut.
Langkah ini ternyata disambut positif, keberadaan area khusus ini juga dinilai selaras dengan konsep kenyamanan yang diusung oleh Sekata Kopi. “Produk tembakau alternatif tidak seperti rokok, enggak membuat bau dan menimbulkan asap. Jadi, pas buat coffee shop-nya kita sehingga pengunjung lain tidak akan terganggu,” ujar David.
Ia berpendapat karena produk tembakau alternatif jauh berbeda dengan rokok, maka lokasi penggunaannya dibedakan. Menurutnya, penting untuk menjaga kenyamanan bagi semua pengunjung kafenya dan inovasi ini adalah salah satu cara David memastikan hal tersebut.
Melihat respons pasar yang begitu besar terhadap fasilitas ini, Sekata Kopi kini terus memperluas area tersebut demi meningkatkan kenyamanan konsumen. Langkah inovatif ini berjalan beriringan dengan ekspansi bisnis mereka ke pusat perbelanjaan seperti Cambridge City Square, serta rencana merambah ke kancah nasional dengan misi mengangkat kearifan lokal di setiap kota.
Melihat perjalanannya hingga mampu mengeksplorasi berbagai peluang baru, David memberikan pesan penting bagi para calon entrepreneur yang masih ragu untuk terjun ke dunia wirausaha. Menurutnya, keberanian mengeksekusi ide adalah kunci utama, namun harus tetap dibarengi dengan perencanaan yang matang.
“Yang paling penting adalah ketika punya ide, yang paling penting adalah buat business plan. Bisnis apa pun, sekecil apa pun, business plan itu harus dibuat. Dan enggak ada yang enggak mungkin,” pungkas David optimistis.
