February 20, 2024

Wadah Bagi Seniman, UOB Indonesia Gelar UOB Painting of the Year

2 min read

Head of Strategic Communications and Brand Head UOB Indonesia Maya Rizano (kiri) dan Ketua Dewan Juri 2021 UOB Painting of The Year Agung Hujatnikajennong (kanan) berfoto bersama usai acara media briefing yang diselenggarakan secara daring, Kamis (29/04).

Jakarta – UOB Indonesia kembali menggelar kompetisi seni unggulan, yakni UOB Painting of the Year 2021 yang memasuki tahun ke-11. Adapun bagi UOB Group ini merupakan penyelenggaran kompetisi ke-40 tahun, yang mulai diresmikan di Singapura pada 1982.

“Melalui kompetisi UOB POY setiap tahunnya, kami terus menciptakan wadah yang bermakna dan berkelanjutan bagi seniman Indonesia untuk menampilkan bakat artistik mereka dan menghubungkan mereka ke lebih banyak peluang di panggung regional dan internasional,” ujar Presiden Direktur UOB Indonesia, Hendra Gunawan dalam keterangan resminya.

Ini merupakan kali kedua UOB POY diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19. “Pandemi telah menunjukkan ketahanan seniman Indonesia untuk terus mengekspresikan diri secara kreatif dan percaya diri melalui penggunaan platform online di tengah pembatasan sosial yang berlangsung. Sebagai bagian dari kegiatan sosialisasi seni dan komunitas kami tahun ini, kami telah mengundang seniman alumni UOB POY dan berbagai praktisi seni dalam serangkaian webinar untuk berbagi pengalaman mereka di forum publik. Melalui upaya tersebut, kami berharap dapat berkontribusi untuk kemajuan komunitas,” kata Hendra.

Vice President Strategic Communications and Brand Head UOB Indonesia, Maya Rizano, menambahkan UOB POY merupakan salah satu pilar program Corporate Social Responsibility (CSR), yang bergerak di bidang seni, selain anak-anak dan pendidikan. “Kami sangat menghargai ragam seni dan budaya Indonesia. Kami percya UOB POY akan memotivasi para seniman Indonesia terus berkarya demi memajukan seni dan budaya bangsa, sehingga kekayaan seni Indonesia tidak hanya diakui negeri sendiri, namun secara global,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.

Maya pun mengajak para seniman profesional dan pendatang baru di Indonesia untuk mengikuti UOB POY. “Kami juga mengajak seniman-seniman Indonesia, yang selama ini terkenal, dengan karyanya yang luar biasa, seperti Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan kawasan Indonesia Timur lainnya juga turut berpartisipasi dalam UOB POY,” katanya.

Untuk tahun ini, UOB POY tidak menetapkan tema lukisan. Adapun komposisi dewan juri UOB POY di Indonesia antara lain, Agung Hujatnikajennong, Kurator Independen dan Dosen Institut Bandung. Lalu Natasha Sidharta, Direktur Indo Artnow, situs web arsip yang mempromosikan dan mendukung perkembangan dunia seni rupa di Indonesia. Terakhir adalah Mella Jaarsma, Founder Cemeti Art House dan Seniman.

Dengan tidak adanya ketentuan tema lukisan, Agung mengatakan, ini akan menarik minat para seniman Indonesia untuk berpartisipasi dalam UOB POY. Dia pun memprediksi karya-karya yang akan diikutkan dalam kompetisi tahun ini masih identik dengan tema pandemi maupun ilustrasi yang berhubungan dengan solidiritas serta figur.

“Walaupun tidak ada tema, saya menduga yang dominan masih akan seputar tema itu karena kompetisi ini memberikan kesempatan bagi karya-karya dari 2 tahun terakhir selama karya tersebut belum ditampilkan dan dipamerkan,” ujar Agung yang telah menjadi juri dalam lima tahun terakhir ini.

Selain Singapura dan Indonesia, kompetisi ini juga diselenggarakan di Malaysia dan Thailand. Karya para pemenang dari masing-masing negara akan kembali diadu di level Asia Tenggara. Sejauh ini, seniman Indonesia telah enam kali memenangi UOB Southeast Asia Painting of the Year.