April 11, 2024

Realisasi PEN BTN Capai Rp 3 Triliun

2 min read

Plt. Direktur Utama Bank BTN Nixon LP Napitupulu

Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terus memacu penyaluran kredit dari penempatan dana negara. Perseroan mencatat angka realisasi penyaluran kredit mencapai sekitar Rp 3 triliun dalam satu bulan penempatan dana atau terhitung sejak 25 Juni hingga 23 Juli 2020.

Direktur Finance, Planning, and Treasury Bank BTN Nixon LP Napitupulu, mengatakan perseroan berkomitmen meningkatkan penyaluran kredit dari penempatan dana negara tersebut. “Kami terus memacu penyerapan anggaran tersebut dengan mengandalkan jaringan dan infrastruktur yang kuat di sektor perumahan. Selama satu bulan ini, kami telah mencatatkan penyaluran kredit sekitar Rp3 triliun,” jelas Nixon di Jakarta, Jumat (24/7).

Nixon merinci, penyaluran terbesar emiten bersandi saham BBTN ini masih didominasi kredit ke sektor non Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Segmen non-UMKM tersebut menempati porsi sebesar 96% dari total ekspansi atau setara Rp 2,8 triliun. Kemudian, porsi sisanya sebesar 4% ditempati segmen UMKM atau setara Rp 122,03 miliar.

Menurut Nixon, langkah perseroan memacu kredit tersebut juga menjadi wujud komitmen Bank BTN membantu pemerintah menanggulangi berbagai dampak ekonomi yang timbul akibat pandemi Covid-19. Upaya lain yang juga telah dilakukan Bank BTN yakni dengan memberikan layanan restrukturisasi bagi para debitur yang terdampak pandemi tersebut.

Nixon menjelaskan pengajuan restrukturisasi kredit memang mengalami puncak tertinggi pada April dan Mei 2020. Namun, memasuki Juni 2020, permintaan restrukturisasi kredit di perseroan mulai menunjukkan penurunan.

Hingga Juni 2020, lanjut Nixon, Bank BTN telah merestrukturisasi kredit dari 230 ribu debitur dengan total baki debet sekitar Rp36,4 triliun. “Kami proyeksikan angka restrukturisasi kredit tersebut akan terus mengecil hingga Desember 2020 sejalan dengan mulai bergeraknya roda ekonomi. Perhitungan kami posisi restrukturisasi pada Desember 2020 nanti sekitar Rp30 triliun,” tutur Nixon.