August 20, 2026

Donald Trump Akan Bertemu Kim Jong Un di Akhir Tahun Ini

3 min read

Amerika Serikat – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan bertemu dengan Kim Jong Un akhir tahun ini. Rencana itu untuk menghidupkan kembali hubungan yang telah terjalin antara dirinya dan pemimpin Korea Utara tersebut pada periode pertama masa jabatannya.

Trump menginformasikan kepada para wartawan di Gedung Putih bahwa sangat penting baginya untuk saling memahami dengan Kim, seraya menambahkan dalam penilaian yang tidak biasa dan presisi tentang Pyongyang kini sudah memiliki 57 senjata nuklir.

Namun, perubahan fokus mendadak Trump terhadap Kim serta pengurangan latihan militer bersama AS-Korea Selatan telah mengkhawatirkan sekutu-sekutunya di Asia, sekaligus memicu spekulasi bahwa ia sedang mencari kemenangan kebijakan luar negeri di saat perangnya dengan Iran sedang mandek.

“Ya, saya akan [bertemu],” kata Trump saat melakukan tur ke helipad baru di Gedung Putih, ketika ditanya apakah ia berencana untuk bertemu Kim nanti pada tahun 2026.

Trump membela rencananya untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara tersebut meskipun ia sedang perang dengan Iran, yang ia benarkan atas dasar mencegah Teheran mendapatkan bom nuklir.

“Dia memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat. Harusnya tidak pernah dibiarkan terjadi… Jika saya presidennya, saya tidak akan membiarkannya terjadi,” kata Trump, merujuk pada Kim.

“Tapi dia sudah memilikinya. Saya berhubungan sangat baik dengannya. Saya tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Dan saya kenal Kim Jong Un sangat baik, dan dia akan baik-baik saja.”

Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut, tetapi Wall Street Journal melaporkan bahwa ia sedang mengincar pertemuan saat melakukan perjalanan ke Shenzhen, Tiongkok untuk KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada November mendatang.

Meskipun mengakui Pyongyang memiliki senjata nuklir, AS secara resmi tidak mengakui Korea Utara sebagai negara nuklir. Pandangan tersebut merupakan hal yang tidak biasa bagi seorang presiden untuk secara terbuka memberikan penilaian yang begitu spesifik mengenai stok persenjataannya.

Namun, pernyataan Trump mengenai Korea Utara yang memiliki 57 senjata nuklir sejalan dengan penilaian pemerintah AS dan lembaga pemikir (think tank) sebelumnya bahwa Pyongyang memiliki persenjataan berkisar antara 50 hingga 60 nuklir.

Setelah pada awalnya mengejek Kim sebagai “manusia roket” dan mengancam dengan “api dan kemurkaan” (fire and fury) terhadap Korea Utara, Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara tersebut sebanyak tiga kali selama masa jabatan pertamanya. Pertemuan terakhir mereka terjadi pada 2019 silam.

Trump mengatakan mereka “jatuh cinta” setelah saling bertukar “surat-surat yang indah”. Namun, KTT yang menyita perhatian media tersebut menghasilkan sedikit perkembangan nyata dalam masalah nuklir dan mereka belum bertemu lagi di masa jabatan kedua Trump.

Kini Trump mendorong kembali isu tersebut ke dalam agenda utama sejak mengumumkan secara mendadak pada Minggu lalu bahwa ia telah memerintahkan Washington untuk mengurangi latihan militer dengan Seoul. Alasannya adalah hubungan baik antara Trump dan Kim.

Trump mengatakan latihan gabungan tersebut “sangat menghina” Kim. Menurut Trump, pemimpin generasi ketiga Korea Utara tersebut telah berperilaku sangat baik.

Pada tahun 2024, Korea Utara mengerahkan pasukan untuk mendukung Rusia dalam perangnya melawan Ukraina dan menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Moskow.

Adik perempuan Kim Jong Un yang berpengaruh mengatakan pada hari Rabu bahwa ia tidak tahu-menahu tentang kabar komunikasi antara kakaknya dan Trump. “Mengenai berita terbaru dari Washington tentang komunikasi antara para pemimpin Korea Utara dan Amerika Serikat, saya sama sekali tidak mengetahuinya,” kata Kim Yo Jong dalam sebuah pernyataan.

Meskipun demikian, Kim Yo Jong mengatakan kakaknya masih memiliki “kenangan dan perasaan yang baik” tentang Trump sert hubungan antara kedua pemimpin tersebut tetap sangat baik.

Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Seoul mengumumkan latihan tahunan Ulchi Freedom Shield dengan Amerika Serikat akan berakhir sekitar seminggu lebih awal dari yang direncanakan atas saran dari pihak AS.

Pentagon menyatakan pengurangan latihan militer bersama tersebut tidak akan menyebabkan penurunan dari tujuan pelatihan AS. Latihan tersebut dirancang untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan dari Korea Utara.

Namun, Kim Yo Jong menepis pengurangan latihan tersebut dengan mengatakan, “kami tidak menganggapnya layak untuk dikomentari dan menganggapnya sama sekali tidak menarik.”

Korea Utara yang bersenjata nuklir telah lama menyuarakan kemarahan atas latihan tersebut, dengan menganggapnya sebagai latihan untuk invasi.

Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara tersebut, sebuah peninggalan dari Perang Korea 1950-1953 yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan traktat perdamaian.

Trump telah berulang kali mengkritik aliansi jangka panjang AS, yang menimbulkan keraguan atas komitmen Washington terhadap keamanan di Asia Timur dan mengkhawatirkan mitra-mitra regionalnya.

Leave a Reply