CEO Baru Xbox Sebut Industri Konsol Hadapi “Krisis Hardware”
2 min read
Jakarta – CEO baru Xbox, Asha Sharma, menilai industri konsol saat ini tengah menghadapi “krisis hardware” akibat melonjaknya biaya produksi komponen penting seperti memori dan penyimpanan (storage). Menurutnya, industri perlu menghadirkan opsi yang lebih terjangkau bagi konsumen jika ingin tetap bertahan di masa depan.
Dalam wawancara terbaru dengan Fortune, Sharma menjelaskan bahwa pola lama industri konsol, meluncurkan perangkat dengan harga tinggi yang kemudian semakin murah seiring waktu tidak lagi relevan. Sebab, kenaikan harga komponen membuat biaya produksi perangkat generasi berikutnya terus meningkat.
Ia bahkan memperingatkan harga sebuah konsol generasi baru berpotensi mencapai ribuan dolar AS apabila tren tersebut terus berlanjut. Kondisi ini dinilai tidak realistis untuk pasar massal yang menjadi target utama industri gim.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Sharma mengungkapkan bahwa Xbox tengah mengembangkan “model bisnis yang benar-benar berbeda” untuk konsol generasi berikutnya, yang saat ini dikenal dengan nama kode Project Helix. Tujuannya adalah menjaga biaya masuk bagi konsumen tetap terjangkau.
Beberapa pendekatan yang sedang dipertimbangkan meliputi pengembangan perangkat dengan spesifikasi lebih rendah. Kemudian, skema pembayaran yang fleksibel, hingga kerja sama yang lebih erat dengan perusahaan telekomunikasi dan mitra penyedia perangkat keras untuk mempermudah akses pemain ke ekosistem Xbox.
Selain itu, konsol Xbox generasi mendatang diperkirakan akan mengadopsi arsitektur yang lebih menyerupai PC dan terintegrasi erat dengan layanan cloud. Namun demikian, Sharma menegaskan bahwa perusahaan tidak semata-mata berfokus menciptakan konsol dengan performa paling tinggi.
“Kami harus memikirkan apa yang benar-benar dibutuhkan sebuah konsol, bukan sekadar mengejar perangkat paling bertenaga,” ujarnya.
Jika visi tersebut terealisasi, para pemain kemungkinan akan melihat lebih banyak pilihan perangkat dengan berbagai tingkatan spesifikasi, paket langganan yang dibundel dengan hardware, hingga perangkat hibrida yang memanfaatkan kombinasi pemrosesan lokal dan komputasi cloud.
Pernyataan Sharma juga menjadi sinyal bahwa model bisnis tradisional industri konsol yang terus menghadirkan perangkat dengan biaya produksi dan harga jual semakin mahal di setiap generasi. Mungkin perlu berubah agar tetap relevan dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
EXTREME TECH
