Kompensasi Tahunan CEO Microsoft Turun Jadi $90,6 Juta di Tengah Efisiensi dan Buyout 60 Ribu Karyawan
3 min read
Redmond — Kompensasi tahunan CEO Microsoft, Satya Nadella, mengalami penurunan menjadi $90,6 juta (sekitar Rp1,42 triliun) pada tahun fiskal lalu. Penurunan ini terjadi seiring dengan bergejolaknya saham raksasa teknologi tersebut, menurut laporan terbaru dari berkas regulator tertanggal 21 Oktober yang diperoleh The Seattle Times.
Nadella, yang telah memimpin korporasi bernilai $3,95 triliun tersebut sejak 2014, mengantongi pendapatan sekitar $6 juta lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini bertepatan dengan melemahnya performa saham Microsoft di Wall Street selama tahun fiskal 2026, yang berakhir pada 30 Juni lalu. Meskipun mengalami penurunan pendapatan dari tahun sebelumnya, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan total kompensasi sebesar $79,1 juta yang diterimanya pada tahun 2024.
Secara rincian, gaji pokok tahunan Nadella berada di angka $2,5 juta, jumlah yang tidak berubah sejak pertama kali menjabat sebagai CEO. Sebagian besar dari total pendapatannya berasal dari penghargaan saham (stock awards) yang bernilai $77,5 juta. Selain itu, ia menerima bonus tunai sebesar $10.3 juta yang dinilai berdasarkan berbagai kualifikasi seperti budaya perusahaan, metrik keamanan siber, dan performa produk. Kompensasi lainnya mencakup $259.204 untuk tunjangan keamanan, kontribusi pensiun, dan kegiatan amal.
Di sisi lain, berdasarkan aturan keterbukaan informasi, median kompensasi total karyawan Microsoft, di luar Nadella, mengalami kenaikan dari yang sebelumnya berkisar $200.000 menjadi lebih dari $215.000 (sekitar Rp3,38 miliar) pada tahun ini.
Penawaran Buyout Massal untuk 60.000 Karyawan
Kabar mengenai penyesuaian gaji sang CEO muncul berbarengan dengan langkah efisiensi besar-besaran yang diambil perusahaan. Microsoft baru saja menawarkan skema pengunduran diri sukarela (buyout) kepada hampir 60.000 karyawannya, atau mencakup lebih dari seperempat dari total tenaga kerja globalnya. Langkah ini diambil guna menekan biaya operasional sekaligus membiayai investasi masif di bidang kecerdasan buatan (AI).
Menurut sumber yang dikutip Reuters, penawaran buyout ini menyasar staf yang bekerja di divisi keuangan, sumber daya manusia (HR), Copilot, pengalaman AI, Xbox, serta Windows + Devices. Sementara itu, karyawan di divisi pemasaran, keamanan, dan bisnis komersial dikecualikan dari program ini.
“Penawaran ini memberikan kesempatan bagi karyawan memenuhi syarat yang sedang mempertimbangkan karier di luar perusahaan untuk mengambil keputusan transisi tersebut sekarang dengan dukungan penuh,” tulis Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, dalam memo internal kepada staf. “Langkah ini juga memberi fleksibilitas bagi organisasi untuk menyesuaikan tenaga kerja dengan kebutuhan yang terus berkembang.”
Program penawaran exit sukarela ini berlaku bagi karyawan di tingkat Vice President ke bawah yang berbasis di Amerika Serikat, Kanada, India, dan Inggris, dengan paket pesangon standar sesuai ketentuan wilayah masing-masing. Karyawan yang mendapatkan penawaran ini diberi tenggat waktu hingga Desember mendatang untuk mengambil keputusan.
Microsoft mengestimasikan tingkat penerimaan program ini berada di kisaran 3 hingga 5 persen, atau secara kumulatif diikuti oleh kurang dari 3.000 karyawan. Menyusul pengumuman skema buyout tersebut, saham Microsoft sempat merespons positif dengan kenaikan sekitar 1,5 persen pada hari yang sama.
Restrukturisasi Berkelanjutan Demi Fokus AI
Langkah penghematan ini menambah panjang deretan restrukturisasi internal Microsoft sepanjang tahun. Berdasarkan laporan tahunan per 30 Juni, Microsoft mencatatkan total 223.000 karyawan penuh waktu di seluruh dunia. Sebelum program baru ini, Microsoft telah menawarkan buyout sukarela kepada sekitar 7 persen tenaga kerjanya di AS (sekitar 9.000 staf) pada awal tahun, serta melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.800 karyawan secara global di Juli.
Sebagai salah satu pemberi kerja swasta terbesar di wilayah Greater Seattle, dengan puluhan ribu staf yang tersebar di kampus utama Redmond, Seattle, Bellevue, dan Issaquah, perubahan strategi Microsoft sangat dipengaruhi oleh pergeseran fokus industri ke arah Artificial Intelligence.
Saat ini, Microsoft terus mengintegrasikan teknologi AI ke dalam jajaran produk utamanya, mulai dari asisten digital Copilot hingga integrasi pada perangkat keras. Setelah meluncurkan generasi baru PC berbasis AI pada tahun 2024 dan memperkenalkan avatar asisten virtual “Mico” tahun lalu, Microsoft juga terus memperkuat perannya sebagai penyedia kapasitas cloud computing utama bagi pemain AI papan atas seperti OpenAI dan Anthropic.
Referensi: https://www.dailymail.com/news/article-16246093/microsoft-ceo-satya-nadella-annual-salary-computing-giant.html
