Riset: Beralih ke Produk Tembakau Alternatif dapat Turunkan Risiko Kerusakan Pembuluh Darah
3 min read
Rokok elektronik
Jakarta – Perubahan gaya hidup kini tidak hanya soal pola makan dan olahraga, tetapi juga bagaimana seseorang mengubah kebiasaan buruk lainnya seperti merokok. Seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan, sebagian perokok dewasa mulai mencari pendekatan yang lebih realistis untuk keluar secara bertahap dari kebiasaan merokok, salah satunya lewat pemanfaatan produk tembakau alternatif.
Sebuah riset terkini yang diterbitkan CoEHAR pada Februari 2026 memberikan perspektif baru terkait dampak positif beralih ke produk tembakau alternatif. Studi bertajuk Vascular health after quitting smoking or switching to e-cigarette use: a systematic review of prospective studies with GRADE assessment yang dipublikasikan di European Journal of Preventive Cardiology ini meneliti 23 studi klinis dengan melibatkan 11.702 peserta untuk memahami apa yang terjadi pada kesehatan pembuluh darah setelah beralih dari kebiasaan merokok dengan menggunakan rokok elektronik.
Peneliti CoEHAR, Prof. Riccardo Polosa, menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan jantung ketika sudah muncul gejala serius. Padahal, proses kerusakan dan pemulihan sebenarnya terjadi jauh lebih awal pada pembuluh darah. “Kita sering berfokus pada hasil jangka panjang seperti serangan jantung atau stroke, tetapi proses pemulihan dimulai jauh lebih awal yaitu pada pembuluh darah,” ujar Polosa yang merupakan profesor dan dokter penyakit dalam ini.
Paparan zat kimia dari proses pembakaran pada rokok diketahui berkaitan dengan perubahan di pembuluh darah, seperti berkurangnya elastisitas arteri dan terganggunya fungsi lapisan dalam pembuluh darah (endotelium). Kondisi tersebut membuat pembuluh darah kehilangan kemampuannya untuk melebar dengan optimal, sehingga dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Menariknya, dalam tinjauan sistematis ini menunjukkan bahwa berhenti merokok maupun beralih sepenuhnya dari rokok yang dibakar ke rokok elektrik atau vape dikaitkan dengan perbaikan awal pada indikator kesehatan pembuluh darah yang relevan dengan risiko penyakit kardiovaskular. Meskipun bukti ilmiah saat ini masih terbatas, arah temuan riset ini konsisten mendukung pemahaman bahwa pengurangan paparan zat berbahaya hasil pembakaran tembakau berperan penting menekan risiko penyakit terkait kebiasaan merokok.
Prof. Riccardo Polosa menambahkan, ketika paparan dari proses pembakaran dihentikan, fungsi pembuluh darah mulai menunjukkan perbaikan yang dapat diukur. “Ketika pembakaran berhenti, fungsi pembuluh darah mulai membaik. Perubahan yang terukur ini menunjukkan bahwa menghilangkan paparan asap memiliki manfaat biologis langsung,” jelasnya. Sehingga, menurutnya penting bagi perokok untuk berhenti konsumsi rokok yang dibakar. Jika belum bisa, lebih baik menggunakan produk tembakau alternatif.
Temuan lain yang cukup menarik adalah bahwa peningkatan fungsi pembuluh darah terjadi baik pada penggunaan produk yang mengandung nikotin maupun tanpa nikotin. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor utama yang memicu kerusakan pembuluh darah bukanlah nikotin, melainkan zat beracun yang dihasilkan dari proses pembakaran.
Di sisi lain, fenomena beralih dari kebiasaan merokok juga semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat. Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan, menilai bahwa tren ini mencerminkan perubahan cara pandang perokok dewasa dalam mengelola kebiasaan mereka. “Saya melihat tren perokok dewasa yang mulai beralih ke produk tembakau alternatif sebagai perkembangan yang cukup signifikan dalam pendekatan pengendalian konsumsi rokok,” ujarnya.
Menurut Paido, tidak semua perokok dapat langsung meninggalkan kebiasaan tersebut, sehingga pendekatan bertahap menjadi pilihan yang lebih realistis. Produk tembakau alternatif, kata dia, kerap dimanfaatkan sebagai jembatan dalam proses transisi sebagai upaya mengurangi risiko.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan proses beralih tidak hanya ditentukan oleh produk yang digunakan. Konsistensi individu dalam mengubah rutinitas dan perilaku menjadi faktor yang sangat penting, termasuk dalam mengenali pemicu seperti stres atau lingkungan sosial. “Banyak perokok yang gagal bukan karena produknya tidak efektif, melainkan karena rutinitas dan pola perilaku tidak ikut berubah,” jelasnya.
Ia juga menyarankan pendekatan sederhana yang lebih mudah dijalani, misalnya dengan mulai menggantikan satu momen merokok dalam rutinitas harian dengan produk tembakau alternatif. “Pendekatan kecil namun konsisten ini seringkali lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan perubahan drastis yang sulit dipertahankan,” tutup Paido.
