June 23, 2024

Produk dengan Konsep Pengurangan Risiko Bantu Kurangi Bahaya Lingkungan dan Kesehatan

2 min read

Ketua KABAR Ariyo Bimmo

Jakarta – Produk hasil pengembangan inovasi dan teknologi yang menerapkan konsep pengurangan risiko (harm reduction) sudah marak di Indonesia. Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR, Ariyo Bimmo, menjelaskan kehadiran produk-produk tersebut untuk membantu masyarakat mengurangi bahaya terhadap lingkungan maupun kesehatan.

“Mobil listrik mengurangi polusi dan hemat bahan bakar berarti baik buat lingkungan secara umum. Kemudian masih ada energi terbarukan dan hal yang cukup baru adalah produk penghantar nikotin,” kata Bimmo ketika dihubungi wartawan.

Terkait dengan inovasi untuk pengurangan risiko tembakau, Bimmo melanjutkan produk penghantar nikotin banyak ragamnya. Mulai dari nicotine replacement therapy, dan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik, snus, hingga produk tembakau yang dipanaskan. “Tujuan hadirnya produk-produk ini untuk meminimalkan dampak bagi kesehatan terkait dengan penggunaan produk tembakau. Riset-riset terhadap produk ini sudah ada dari berbagai belahan dunia dan dikeluarkan oleh pihak yang independent dan kredibel,” ucap dia.

Salah satu contoh riset yang dipaparkan Bimmo adalah kajian ilmiah dari Public Health England, divisi dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 lalu. Dalam riset yang berjudul “Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018”, dinyatakan bahwa produk tembakau alternatif lebih rendah risikonya hingga 95% dibandingkan rokok konvensional.

“Inggris sudah menyatakan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik serta produk tembakau dipanaskan, lebih rendah risikonya hingga 95% dan sudah diterapkan oleh pemerintahnya menjadi suatu kebijakan,” ucap Bimmo yang sekaligus pengamat hukum ini.

Pendiri dan Ketua Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP), Achmad Syawqie, menambahkan produk tembakau alternatif memang terbukti memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih rendah. Hal ini diperkuat dengan riset yang telah dilakukan YPKP dengan judul “Pengurangan Bahaya Tembakau dan Studi Potensi Genotoksik melalui Perhitungan Frekuensi Mikronukleus pada Apusan Sel Mukosa Bukal”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki jumlah inti sel kecil dalam kategori tinggi sebanyak 145,1. Adapun pengguna rokok elektrik dan non-perokok masuk dalam kategori normal yang berkisar pada angka 76-85.

Jumlah inti sel kecil yang semakin banyak menunjukkan ketidakstabilan sel yang merupakan indikator terjadinya kanker di rongga mulut. Hasil memperlihatkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara jumlah inti sel kecil pada pengguna rokok elektrik dengan non-perokok dan dua kali lebih rendah dari pada perokok aktif.

“Efek genotoksik terhadap sel mukosa bukal pengguna rokok elektrik lebih rendah dibandingkan perokok. Ini merupakan temuan penting karena mikronukleus berhubungan dengan inisiasi proses perkembangan keganasan (kanker) pada perokok,” ungkap Syawqie.

Dengan fakta tersebut, Syawqie menilai produk tembakau alternatif dapat menjadi solusi bagi perokok dewasa yang ingin beralih ke produk lebih rendah risiko. “Kami berkesimpulan bahwa produk tembakau alternatif layak digunakan sebagai media pengganti rokok bagi mereka yang ingin berhenti merokok. Namun, tidak dianjurkan dipakai oleh non-perokok, maupun anak-anak,” tegas Syawqie.

Agar perokok sepenuhnya mau beralih ke produk tembakau alternatif, Bimmo menambahkan, pemerintah perlu menciptakan regulasi khusus yang dilandaskan oleh kajian maupun hasil riset. Hal ini sekaligus untuk menciptakan perlindungan bagi konsumen. “Jadi di regulasi jelas mengatur siapa yang boleh beli dan jual. Sekarang karena tidak jelas anak-anak boleh beli, padahal itu salah kaprah,” ujar Bimmo.