November 1, 2026

Pakar Jelaskan Potensi Tembakau dan Nikotin Apabila Tanpa Pembakaran

3 min read

Jakarta – Di tengah tingginya angka perokok di Indonesia, pendekatan berbasis sains diperlukan untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap risiko kesehatan akibat merokok secara lebih tepat. Salah satu hal yang kerap menimbulkan kesalahpahaman adalah anggapan bahwa nikotin merupakan penyebab utama penyakit terkait kebiasaan merokok.

Akademisi sekaligus peneliti bidang toksikologi dan biomolekuler dari Universitas Kristen Maranatha, Prof. Dr. Wahyu Widowati, M.Si. menjelaskan bahwa nikotin memang memiliki sifat adiktif yang dapat membuat seseorang sulit melepaskan diri dari kebiasaan merokok. Namun, menurutnya, sumber utama berbagai risiko kesehatan akibat merokok berasal dari proses pembakaran tembakau yang menghasilkan ribuan senyawa berbahaya. “Penyebabnya bukan nikotin, tetapi pembakaran pada rokok,” ujar Widowati dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA III) 2026 di Jakarta (21/10).

Dalam paparannya, Widowati menjelaskan bahwa tembakau secara alami mengandung berbagai komponen, seperti alkaloid, karbohidrat, protein, lipid, mineral, dan senyawa aroma. Dalam bentuk dasarnya, komponen-komponen ini tidak serta merta berbahaya. Namun karakteristik senyawa tersebut berubah secara drastis ketika mengalami proses pembakaran pada suhu tinggi.

“Begitu ada proses pembakaran, konsekuensinya sangat besar. Senyawa yang ada dalam tembakau berubah menjadi lebih dari 7.000 bahan kimia berbahaya pada asap rokok,” jelasnya.

Asap hasil pembakaran tersebut dapat mengandung berbagai zat yang diketahui berkontribusi terhadap risiko kesehatan, seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, benzena, senyawa karbonil, hingga partikel-partikel halus hasil pembakaran. Berbagai senyawa tersebut dapat memicu stres oksidatif, inflamasi, kerusakan jaringan, serta berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Karena itu, Widowati menekankan pentingnya memahami sumber risiko kesehatan terkait kebiasaan merokok secara tepat agar masyarakat tidak menyalahartikan bahwa persoalan merokok berada pada kandungan nikotin.

“Orang sering mengaitkan seluruh risiko merokok dengan nikotin. Padahal risiko kesehatan merokok muncul karena paparan ribuan zat berbahaya yang terbentuk selama proses pembakaran tembakau. Inilah yang perlu dipahami masyarakat agar diskusi mengenai merokok dan pengurangan risiko dapat dilakukan secara lebih tepat dan berbasis sains,” katanya.

Pemahaman mengenai sumber risiko tersebut menjadi salah satu dasar munculnya pendekatan tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau. Pendekatan ini berangkat dari kenyataan bahwa tidak semua perokok dewasa dapat langsung berhenti merokok meskipun memahami risikonya.

Dalam konteks tersebut, Widowati menjelaskan bahwa berbagai produk tembakau alternatif yang tidak melibatkan proses pembakaran merupakan bentuk dari pengurangan risiko karena tidak menghasilkan asap sehingga mengurangi paparan terhadap senyawa berbahaya.

“Orang sering kali hanya melihat nikotinnya, padahal yang perlu dipahami adalah bagaimana suatu produk digunakan dan apakah terjadi proses pembakaran atau tidak,” ujarnya.

Widowati menambahkan, nikotin dan tembakau sejatinya memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan. Dari perspektif biomolekuler, tembakau telah lama menjadi objek penelitian karena kandungan senyawa bioaktifnya. Senyawa tersebut dapat dimanfaatkan dalam beragam bidang, termasuk kesehatan dan bioteknologi.

“Dari sisi potensi biologis, tembakau mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti alkaloid, fenolik, dan lignan yang saat ini terus diteliti. Secara molekuler, tanaman tembakau juga telah dimanfaatkan untuk memproduksi protein rekombinan, vaksin, bioenergi, hingga biomaterial,” ujar Widowati.

Selain itu, nikotin sebagai salah satu senyawa yang terkandung secara alami dalam tembakau juga masih menjadi objek penelitian ilmiah. Sejumlah studi mengeksplorasi aktivitas biologis nikotin dan potensinya dalam berbagai bidang kesehatan seperti pengobatan penyakit degeneratif. Namun, Widowati menekankan bahwa pengembangan pemanfaatan tersebut tetap memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan aspek efektivitas dan keamanannya, sehingga seluruh temuan dapat dievaluasi berdasarkan bukti ilmiah yang kuat.

Widowati menutup paparannya dengan menekankan bahwa diskusi mengenai nikotin dan tembakau perlu dilakukan secara seimbang dan berbasis bukti ilmiah agar masyarakat dapat memahami perbedaan antara sifat adiktif nikotin, bahaya paparan hasil pembakaran, serta berbagai aspek ilmiah yang masih terus berkembang.

Leave a Reply