Modernitas, Dinosaurus, dan 1965: Melihat Nostalgia Bekerja
10 min read
Belakangan, saya merasa hidup di zaman ini cuma soal menghabiskan sisa waktu. Tiap pagi mesti bangun dengan tenggorokan kering dan perasaan berat bahwa segala sejarah sudah keburu terjadi, dan saya hanya menjalani sisa-sisanya. Dunia terasa gini-gini aja, tanpa jaminan apa-apa. Kalau boleh berteori, mungkin sebenarnya umat manusia sudah tamat disapu bersih COVID-19, atau kiamat beneran kejadian di 2012, dan sekarang saya sedang dalam antrean panjang menunggu giliran dipanggil di akhirat.
Zaman ini sering dinamai pasca-krisis, pasca-ideologi, pasca-sejarah, pasca-kebenaran. Seolah bab peradaban sudah selesai dan kini tinggal daftar pustakanya. Kita sebatas residu, remah-remah masa lalu. Upaya perubahan pun terasa kepalang telat, bahkan sebelum sempat dicoba. Segala sesuatu terlalu semrawut dan mustahil terurai lagi. Hanya mampu dijalani, hari ke hari, sebagai repetisi yang basi.
Kata Mark Fisher, begitulah sensasi hidup setelah “the end of history”-nya Francis Fukuyama. Kita kelelahan, jadi mandul secara kultural dan politik. Dunia realisme kapitalis hari ini dianggap satu-satunya dunia yang mungkin. Imajinasi mati, tapi sekaligus membuka ruang bagi nostalgia hidup selamanya.
Senjata untuk Bahagia
Bagaimana caranya memulai kembali? Bagaimana menjadi bahagia, bukan hanya berharap merasakannya? Bagaimana menjadi diri sendiri dan lepas dari inersia masa lalu? Bagaimana mengalami hidup sebagaimana hidup itu sendiri, yang punya “will to live”?
Dalam buku The Future of Nostalgia (2001), Svetlana Boym mencatat pertanyaan-pertanyaan itu sebagai hantu yang menggentayangi benak manusia modern. Setidaknya sejak pertengahan abad-19 di Eropa, “kebahagiaan, bukan cuma kerinduan akannya, berarti kelupaan dan cara baru memandang waktu.”
Kegelisahan itu tampak kentara pada tiga tokoh modern, lewat apa yang Boym sebut “nostalgia reflektif”.
Charles Baudelaire, si modernis paling pertama, menangkap pengalaman khas zamannya dalam puisi “À une passante” (1857). Di tengah lalu lintas Paris yang kacau, kebahagiaan hadir saat sesosok perempuan asing berkerudung melintas di tengah kerumunan. “Sekejap keindahan” yang membuatnya “tetiba terlahir kembali”. Sayangnya waktu tidak dapat disetop, dan puisi berakhir sebagai nostalgia akan sesuatu yang mungkin terjadi tetapi tidak pernah terwujud. Cinta pada pandangan terakhir. Semacam versi lawas, dan yang lebih mengguncang eksistensi, dari “The Girl from Ipanema” (1962); sama-sama random encounter yang gagal erotik. Perempuan itu jelmaan modernité: setengah fana, setengah abadi. Pertemuannya cepat lenyap, rindu dan penyesalannya senantiasa menetap.
Rujukan lainnya, Friedrich Nietzsche, justru sama sekali tidak metropolitan. Kota membuatnya tidak kerasan, jadi ia merantau ke Pegunungan Alpen pada 1880-an. Jika tentara Swiss abad ke-17 diobati dari nostalgia dengan dibawa jalan-jalan ke gunung, Nietzsche malah sekalian menjadikan Alpen cara “melupakan” yang serba besar, kuno, dan antik—kritiknya atas sejarah monumental sambil menegakkan sejarah reflektif. Di sana, nostalgia menyerobot, bentuk baru dari rasa kangen rumah menguasainya. Hanya saja ikon modernnya bukan perempuan cantik di lampu merah, tapi Zarathustra, yang rumah satu-satunya adalah jiwanya sendiri. Di Alpen yang seindah kartu pos itu, ia menerima hidup sepenuhnya, bersiap menghadapi “eternal return”. Sementara kebahagiaan urban nan fana Baudelaire tidak bisa menyangkal bahwa manusia modern Nietzsche hanyalah makhluk nostalgik terasing yang “dihantui rasa rindu pada alam liar.”
Terakhir, Walter Benjamin yang berkunjung ke Moskow tiga tahun sepeninggal Lenin. Niat awalnya untuk ngapel harus berakhir jadi ziarah ke pasar loak sejarah, ketika ibu kota komunisme itu menunjukkan jukstaposisi aneh dari masa lalu dan masa depan, dari desa tradisional Rusia yang bersikutan dengan roda industri kota. Ia bak menatap satu per satu puing bencana terus menimbun. Akan tetapi, Benjamin memandang, setiap zaman memimpikan zaman berikutnya sambil merevisi yang sebelumnya, membuat masa lalu, masa kini, dan masa depan bersinggungan. Metodenya “arkeologi kini”. Ia nostalgik bukan pada yang telah lewat, tetapi pada potensi revolusioner yang terkubur di sekarang. Pahlawan modern Benjamin adalah sosok kolektor memori sekaligus pemimpi dunia lain, di mana segala hal lepas dari tirani fungsi.
Lalu, apa artinya referensi-referensi ini?
Baudelaire, Nietzsche, dan Benjamin tidak berasal dari kota yang sama. Hidup menjalani masa lalu yang berbeda. Sudah pasti bukan satu tongkrongan. Tapi mereka sama-sama mempersenjatai nostalgia untuk menuliskan zamannya.
Buku Boym menceritakan kalau nostalgia beda kelas dengan melankolia—penyakit perenial para biarawan tidak kenal listrik, penyair murung, atau filsuf kuno. Nostalgia itu demokratis, bisa berlumut di kepala tentara, pelaut, sampai orang desa yang tercerabut dan dipaksa bertahan hidup di kota. Ia lebih dari kecemasan personal, tapi gangguan publik yang lahir dari modernitas itu sendiri. Semacam gejala tidak enak badan kolektif.
Bagaimana caranya memulai kembali? Bagaimana menjadi bahagia, bukan hanya berharap merasakannya? Bagaimana menjadi diri sendiri dan lepas dari inersia masa lalu? Baudelaire mencari di kefanaan urban, di dalam kejutan, benturan, dan pertemuan yang terlalu singkat untuk dimiliki. Nietzsche menatap kosmos dan alam liar, memeluk ironi hidup sambil menyanggupi pengulangan tidak terhindarkan. Benjamin justru menunduk, mengais puing-puing sejarah bagai arkeolog penasaran yang berharap menemukan sekeping masa depan di antara rerongsokan masa lalu. Tiga-tiganya sama-sama nostalgik terhadap zamannya—bukan untuk merebutnya, tapi untuk menunjukkan betapa rapuhnya ia.
Naga Tanpa Trauma
Sewaktu Richard Attenborough membuka batu ambar dan mengekstrak DNA nyamuk prasejarah, Jurassic Park (1993) seolah sudah ditakdirkan jadi film sukses. Sains menghidupkan kembali dinosaurus, seperti kebudayaan Tiongkok menghidupkan kembali naga dalam arsitekturnya. Bedanya, dinosaurus lebih Barat. Lebih rasional. Lebih bisa dipercaya. Jika naga terlalu mistikal, dinosaurus adalah mitos yang lulus uji laboratorium. Aman untuk bioskop, lebih ramah keluarga, dan cukup komikal untuk taman bermain.
Lebih-lebih, dinosaurus tidak membawa trauma. Kultur Tiongkok mengenang naga bukan sekadar makhluk fantasi, tapi juga pemikul beban sejarah. Ia simbol kekaisaran, kosmologi, kekuasaan, serta luka-luka politik. Naga meninggalkan ingatan kolektif, beredar dalam ritual, diangkat di panji-panji, dan dihidupkan arsip kemenangan maupun kekalahan sebuah peradaban. Sedangkan dinosaurus hanya meninggalkan tulang-belulang. Sebelum Jurassic Park, ia nyaris apolitis, hidup terbatas dalam arkeologi kelolaan mayoritas kulit putih. Sejak awal, dinosaurus dianggap “punah”, beda dengan naga yang “mati”.
Karena tidak ada manusia yang pernah melihat atau mengingat dinosaurus, tidak ada sejarah yang bisa protes. Dinosaurus menjadi masa lalu yang steril, tidak menyandera siapa pun. Ia bisa dihidupkan dan dimatikan ulang sesuka hati. Nostalgianya minim risiko, dan karenanya sangat laku. Itulah mengapa akal cerdik sutradara Steven Spielberg, yang seorang Yahudi, adalah contoh dari apa yang orang kampung saya sebut “akal-akalan Yahudi”.
Arjun Appadurai punya istilah “ersatz nostalgia”, nostalgia kursi malas. Yang berarti kerinduan tanpa pengalaman hidup, tanpa memori kolektif. Memang, setiap nostalgia selalu membawa unsur utopis atau atopis, namun begitu masuk jalur komoditas, waktu dipaksa patuh pada satu hukum sederhana: time is money. Masa lalu dibanderol sama mahalnya dengan masa kini. Waktu diperas, dikemas, kemudian dijual ulang. Industri hiburan menawarkan sensasi semu “pernah ada” tanpa pernah mengajak kita ke sana. Semua artefak peradaban diobral massal sekaligus ditawar murah.
Di sinilah industri budaya Hollywood lihai bermain. Paling jago menciptakan kecanduan yang tidak kita inginkan. Membanjiri pasar dengan remake, reboot, dan sekuel tanpa juntrungan. Amerikanisasi memproduksi obat untuk orang-orang yang sejatinya tidak sakit. Perlahan, nostalgia pop Amerika menumpang arus politik global, menjadikan pop kultur sebagai mata uang bersama. Demokrasi disederhanakan jadi sebatas akses hiburan.
Jurassic Park pun berfantasi akan dunia impian khas Amerika. Tuan Kapitalis jadi figur bapak baik hati, membiayai ilmuwan-ilmuwan idealis ambisius, dan menjual tiket pengalaman premium yang layak dibayar mahal. Setting Jurassic Park adalah tatanan di mana uang, teknologi, dan rasa takjub hidup akur dan tidak saling berebut tempat duduk. Inti filmnya, selama manusia bermoral dan berniat baik, alam dan teknologi bisa berdamai. Maka di ending, burung alami dan burung besi terbang rukun di langit biru yang sama.
Bila Tiongkok punya naga yang penuh luka sejarah, Amerika punya dinosaurus—ikon nostalgia yang aman, netral, dan nyaris tanpa masa lalu. Hegemoni fabrikasi yang diekspor menyeberang benua untuk mengatur cara kita memahami waktu.
Menandingi yang Resmi
Di Indonesia, negara sudah lama memonopoli ingatan. Ada satu tahun yang terasa seperti masa lalu yang asing tapi sekaligus menempel dalam keseharian kita: 1965. Ia terasa amat jauh karena tidak pernah dibiarkan membicarakan kebenarannya sendiri. Namun juga terasa amat dekat karena hidup dalam normalisasi yang kita jalani tanpa banyak tanya.
Kita tidak semata mengadopsi Red Scare dan McCarthyisme, kita menyempurnakannya jadi mesin pembantaian paling “sukses” yang dikagumi dunia. Ketakutan dilembagakan, diteken jadi kebijakan, lalu diwariskan sebagai kewajaran. Komunisme dipelihara sebagai hantu resmi, cukup hidup untuk ditakuti, cukup mati untuk tidak bisa membela diri. Sejak itu pula, 1965 bekerja sebagai pagar yang membatasi apa yang boleh dan tidak boleh dibayangkan. Lagi-lagi, ketika imajinasi dikebiri, nostalgia pun jadi tampak menggoda.
Versi resmi nostalgia 1965 mengenang heroisme “penyelamatan bangsa”, menjadikannya semacam terapi tahunan. Versi ini terang-terangan merayakan pembantaian sebagai ongkos ketertiban. Ia diawetkan dalam bentuk monumen nirempati, oleh kurikulum, film propaganda, hingga obrolan warung kopi.
Di sisi lain, ada nostalgia yang mengorek-ngorek luka sambil mencoba membayangkan komunisme bukan sebagai hantu, tapi sebagai kemungkinan historis yang nyata. Di titik ini, betapa pun tidak resmi, tidak populer, arbitrer, dan kecil, ia tetaplah nostalgia tandingan. Nostalgia ini mengembalikan rasa “pernah mungkin”, yang pada taraf tertentu penting secara psikologis-politik. Sebab kalau ketidakadilan terasa abadi, orang berhenti membayangkan alternatif. Versi ini seperti bilang: ini pernah terjadi, artinya bisa terjadi lagi.
Pertanyaannya, jika memang watak komunisme Indonesia sudah subversif dari sananya, sejauh mana nostalgianya hari ini juga revolusioner?
Sayangnya, yang kita temukan adalah versi yang terjebak dalam koridor “nostalgia restoratif”. Ia tidak sadar sedang bernostalgia, tapi merasa sedang meluruskan sejarah. Bahasanya tegas, “kita” pernah punya rumah ideologis yang utuh, lalu “mereka” merusaknya, jadi tugas kita membangunnya kembali, lengkap dengan musuh yang sudah ditentukan sejak awal. Sebab-akibat ditukar tempat. Ironisnya, ini pola yang sama persis dipakai negara. Komunisme pra-1965 dibayangkan sebagai rumah yang bisa dipakai lagi apa adanya, seolah gerakan tidak pernah retak, tidak pernah salah langkah. Padahal nostalgia bukan sekadar kerinduan yang kuat hingga membuat mata berkaca-kaca, ia adalah cara kita merancang ulang “rumah” kolektif.
Masalah muncul ketika nostalgia tandingan berhenti di afeksi. Relasi kita dengan komunisme jadi seperti hubungan parasosial, bukan pisau analisis. Pergerakan berubah jadi ritual berkabung yang tidak pernah selesai. Nostalgia 1965 yang tidak ditarik ke depan akan terjatuh di tempat yang sama di mana nostalgia negara mengurung politik di masa lalu. Nostalgia sejatinya tidak bisa diperlakukan sebagai tujuan politik, apalagi berhenti jadi sekadar kangen. Ia perlu memperkaya imajinasi, lalu harus dihancurkan lagi agar tidak berubah jadi museum.
Sudah jadi semacam konsensus kalau kiri hari ini lebih sering jadi bahan meme ketimbang ancaman nyata. Mereka ditertawakan bukan karena kehabisan ide, tapi karena ide-idenya dianggap terlalu muluk, terlalu yakin, terlalu pede berdiri di “pihak sejarah yang menang”. Keyakinan itu pongah, sampai-sampai sering merasa lebih maju dari bangsanya sendiri yang dinilai lamban dan kurang progresif. Di titik inilah nostalgia berbalik arah. Jika dulu ia dicurigai sebagai penyakit konservatif, kini justru sosialisme yang mengidapnya. Di tatanan dunia yang pernah mencicipi lalu melepehnya, sosialisme tampil sebagai masa lalu yang tidak selesai.
Seperti ditulis Alastair Bonnett dalam Left in the Past: Radicalism and the Politics of Nostalgia (2010), melankolia gerakan bukan barang baru dalam tradisi kiri. Sejak 1960-an sudah ada keluhan tentang militansi yang menguap, tentang masa kini yang terasa tidak setara dengan masa lalu yang berapi-api. Setelah 1989, yang runtuh bukan cuma sosialisme negara, tapi juga kepercayaan akan sosialisme sebagai horizon masa depan. Kapitalisme berdiri sendirian, tanpa tandingan. Partai buruh bergeser ke tengah, krisis 2008 lewat tanpa gelombang kiri besar, dan istilah “kiri arus utama” terdengar seperti bercandaan. Di lanskap 1965, pendekatan pascakolonial yang memilih menengok ke belakang tidak bisa langsung dituduh romantisme naif. Yang tampak seperti ekspresi rindu, bisa jadi usaha mencari bahasa politik di tengah imajinasi yang kehilangan visi.
Kita juga bisa mengintip nasib Pramoedya Ananta Toer dan relasinya yang canggung dengan Mikhail Sholokhov. Sholokhov menulis And Quiet Flows the Don (1928) sebelum realisme sosialis dibakukan pada 1934. Novelnya penuh ambiguitas, jauh dari skema doktrin yang rapi. Namun, justru setelah doktrin itu resmi, negara Soviet merangkulnya. Sholokhov dilegitimasi, dijadikan ikon, bahkan dianugerahi Nobel. Sementara itu, Pram bermanuver melawan negara. Dengan membaca sejarah sebagai konflik kekuasaan dan kelas, ia dipenjara dan dibungkam. Ironi yang tidak banyak orang tahu, Pram pernah menerjemahkan Sholokhov—sastrawan yang “kesosialisannya” sendiri diperdebatkan. Di situ jadi tampak terang bahwa yang dilegitimasi tidak selalu yang paling ideologis, melainkan yang paling bisa diolah ke dalam narasi resmi. Dan di sanalah nostalgia kiri diuji; mau jadi epik yang terus bergejolak, atau sebatas pajangan plastik di etalase sejarah.
Nostalgia Orang Kalah
“Perjuangan manusia melawan kuasa adalah perjuangan ingatan melawan lupa,” tulis Milan Kundera. Kalimat itu mungkin terdengar puitis di atas kertas, tetapi di negeri ini terasa seakurat ramalan cuaca. Lupa lebih dari mekanisme alamiah untuk bertahan hidup. Ia bisa diatur, dipelihara, bahkan dilembagakan. Maka, setiap usaha mengingat selalu membawa risiko, dan sedikit unsur pembangkangan.
Dulu, nostalgia dianggap penyakit. Istilahnya muncul untuk menggambarkan para pelaut Eropa yang tidak tahan jauh dari rumah dan badannya meriang. Memasuki abad-19, ia berubah menjadi luapan sentimental atas masa lalu, tentang rasa kehilangan, keterikatan pada hal-hal yang dulu terasa biasa tapi kemudian tampak istimewa. Dari gejala medis menjadi perasaan. Dari diagnosis menjadi kerinduan. Toh, di balik pergeseran itu, satu hal yang tetap adalah nostalgia selalu bicara tentang jarak. Antara kita dan “rumah” yang tidak lagi utuh.
Secara filosofis, nostalgia bisa dibaca sebagai kerinduan pada “ruang pengalaman” yang menyempit, yang tidak sanggup lagi menampung “cakrawala harapan” yang terus membengkak. Masa depan dijanjikan besar-besaran, sementara hidup sehari-hari justru makin tipis dan karatan. Kita diminta percaya pada kemajuan, tapi tidak diberi cukup dunia untuk dihuni. Bahkan jika Immanuel Kant ogah mengakui nostalgia sebagai bagian dari filsafat kritis, ide tentang “nostalgia akan dunia yang lebih baik” tetap menyentuh saraf paling sensitif dari filsafat itu sendiri. Di titik ini, nostalgia bukan sesuatu yang memecah manusia, tapi sesuatu yang kita bagi bersama.
Ketika saya membaca “Saya PKI atau Bukan PKI?!” (1984) karya Pipit R. Kartawidjaja dan “Hoakiau dari Jember” (2007) oleh Andreas Harsono, saya teringat cerita tentang kakek yang konon rutin menulis di surat kabar Merdeka pada 1960 sampai 1980-an. Faktanya, namanya hilang dari arsip, seolah tidak pernah ada. Sepuluh tahun lalu saya mencoba menelusuri jejak tulisannya. Tak satu pun ketemu. Di titik itu, saya sadar kalau nostalgia kadang sesederhana mencari nama yang dihapus. Ia mungkin kemenangan kecil ingatan atas lupa, tetapi bisa juga menjadi pertanyaan yang tidak kunjung selesai tentang “asal-usul kini”. Tentang sesuatu yang terus kita cari, dan kekalahan yang tidak pernah benar-benar kita akui.
Jofie DB
Eks jurnalis lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Sejak 2018 aktif menulis tentang film, budaya populer, dan politik. Telah menerbitkan dua bunga rampai jurnalisme naratif yang berangkat dari riset isu-isu lingkungan, masing-masing di Serdang Bedagai dan Wakatobi.
