CEO AIG Bahas “Pass-Through” Marketplace dan Peluang Pertumbuhan
3 min read
Amerika Serikat – Eric Anderson, CEO baru American International Group (AIG), memberikan pandangan mendalam mengenai perusahaan dalam earnings call pertamanya sejak menjabat. Ia menyoroti berbagai peluang yang muncul di tengah kondisi pasar saat ini.
Anderson mengatakan pasar sedang “beralih dari periode panjang dengan kenaikan harga yang terjadi secara luas menuju kondisi yang lebih selektif, di mana profitabilitas dan pertumbuhan semakin bergantung pada dinamika masing-masing lini bisnis.”
Dinamika tersebut antara lain ditandai dengan masuknya kapasitas baru di sejumlah segmen, baik dari perusahaan excess & surplus lines (E&S), struktur delegated underwriting authority, maupun sumber lainnya, ujarnya kepada para analis. Menurut Anderson, meskipun para pemain baru ini meningkatkan persaingan dan memberikan tekanan terhadap harga, khususnya di sektor properti, kondisi tersebut juga menciptakan peluang.
“Klien cenderung semakin selektif dalam melihat dari mana kapasitas tersebut berasal,” jelasnya. “Mereka membedakan antara penyedia yang sekadar menjadi pass-through untuk paper milik pihak ketiga atau yang hanya berfokus pada perlindungan excess, dengan penyedia yang menawarkan solusi secara menyeluruh, didukung oleh keunggulan underwriting, layanan kepada klien, dan penanganan klaim yang responsif.”
Dalam bisnis properti, Anderson mengatakan portofolio properti AIG yang beragam secara global menjadi sebuah keunggulan. Sementara itu, di Amerika Utara, ketika persaingan dari perusahaan E&S mendorong penurunan tarif, AIG memutuskan untuk secara sengaja mengurangi portofolio propertinya di perusahaan surplus lines miliknya, Lexington, pada “area-area tertentu”. Langkah tersebut menyebabkan penurunan 9 poin dalam tingkat retensi premi Lexington pada kuartal kedua.
Pada saat yang sama, AIG berfokus untuk mengembangkan keseluruhan portofolio bisnis propertinya di area-area yang masih menawarkan keuntungan, seperti melalui transaksi renewal rights dengan Everest. “Kami menawarkan persyaratan yang mencerminkan pandangan kami terhadap risiko tersebut,” kata Anderson. “Karena itu, kami mempertahankan bisnis yang memungkinkan kami mendapatkan persyaratan yang dapat diterima, dan meninggalkan bisnis yang tidak memenuhi standar underwriting kami.”
Mengalokasikan modal secara strategis ke area dengan tingkat imbal hasil tertinggi merupakan salah satu bagian dari rencana lima poin yang disampaikan Anderson untuk mendorong pertumbuhan AIG. Perusahaan juga akan menggunakan reasuransi secara efisien, memperluas kemampuan artificial intelligence (AI), menjaga pengeluaran, serta berinvestasi pada talenta. Terkait AI, Anderson mengatakan AIG telah menggunakannya untuk meningkatkan skala proses underwriting dan klaim melalui AIG Assist.
“Di area yang sudah menerapkannya, para underwriter kami dapat meninjau lebih banyak submission dan menghasilkan quote secara jauh lebih cepat, sehingga meningkatkan produktivitas,” kata Anderson. Informasi yang diperoleh dari proses underwriting juga dapat digunakan untuk “menganalisis hasil di tingkat broker guna mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kinerja dan tren distribusi mereka, termasuk area di mana kami melihat tingkat keberhasilan yang paling tinggi.”
“Kami dapat dengan cepat mengetahui di mana kami melihat peluang yang lebih baik,” kata Anderson. Ia menambahkan bahwa hasil tersebut merupakan “turunan” dari pekerjaan yang dilakukan AIG Assist dalam proses underwriting.
“Kami pikir kami dapat membuat proses ini lebih efisien. Ini mungkin bukan berarti lebih banyak submission, tetapi bisa berarti submission yang lebih baik, submission yang sesuai dengan appetite kami, dari mitra dan klien yang memang ingin menggunakan organisasi kami.”
Kemudian, Anderson mengatakan bahwa strategi AI AIG “bukan untuk memiliki lebih sedikit rekan kerja, tetapi agar rekan kerja kami menjadi lebih efisien dan dapat bekerja dengan lebih banyak klien.”
https://www.insurancejournal.com/news/national/2026/08/10/880852.htm
