Usai Restrukturisasi Besar, Xbox Targetkan Kembali Tumbuh pada 2027
3 min read
Amerika Serika – Microsoft melalui divisi Xbox mulai menyusun langkah baru setelah melakukan restrukturisasi besar-besaran yang mengakibatkan ribuan karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) serta empat studio game dipisahkan dari organisasi. Dalam memo internal yang diperoleh The Verge, CEO Xbox Asha Sharma menyampaikan target ambisius perusahaan untuk mengembalikan Xbox ke jalur pertumbuhan.
Sharma menargetkan pada akhir tahun fiskal 2027, yang berakhir pada Juni tahun depan, Xbox kembali mencatatkan peningkatan jumlah pemain sekaligus pertumbuhan pendapatan. “Kami akan mengembalikan Xbox ke pertumbuhan pemain dan pendapatan,” tulis Sharma dalam memo tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa Xbox akan meningkatkan profitabilitas hingga kembali sejajar dengan rata-rata industri. Menurutnya, seluruh divisi dan studio akan memiliki tanggung jawab untuk mencapai target tersebut.
Sejak mengambil alih kepemimpinan Xbox pada Februari lalu, Sharma telah melakukan sejumlah perubahan besar. Sebelumnya, ia mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi perusahaan, mulai dari rendahnya akuntabilitas internal, meningkatnya biaya komponen perangkat keras, jumlah studio yang dinilai terlalu banyak untuk dikelola secara efektif, hingga infrastruktur platform yang dianggap belum siap menghadapi persaingan industri game ke depan.
Selain restrukturisasi organisasi, Xbox juga mulai mengubah strategi eksklusivitas game. Judul seperti Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution kini dipastikan menjadi game eksklusif untuk konsol Xbox, dan perusahaan berencana menerapkan strategi serupa pada lebih banyak judul di masa mendatang. Sharma bahkan menetapkan visi yang sangat ambisius, yakni menjadikan Xbox sebagai salah satu dari sedikit perusahaan hiburan di dunia yang mampu menjangkau lebih dari satu miliar orang setiap hari.
Empat Prioritas Xbox untuk Tahun Fiskal 2027
Dalam memo tersebut, Sharma menjelaskan empat fokus utama Xbox selama tahun fiskal 2027. Pertama, perusahaan ingin memperkuat ekosistem pemain. Menurut Sharma, Xbox saat ini menjadi salah satu platform hiburan terbesar di dunia dengan lebih dari 100 juta pengguna aktif setiap hari, lebih dari 500 juta pengguna setiap bulan, dan hampir 1 miliar orang setiap tahun.
Meski terus mengembangkan layanan digital, Sharma menegaskan konsol tetap menjadi tulang punggung bisnis Xbox. “Konsol menghasilkan sebagian besar pendapatan Xbox dan tetap menjadi fondasi komunitas penggemar kami. Konsol adalah pengalaman utama Xbox,” tulisnya.
Sementara itu, sistem operasi Xbox, layanan Game Pass, Windows, dan teknologi cloud streaming akan menjadi platform utama untuk menarik pemain baru sekaligus mendukung para pengembang game. Prioritas berikutnya adalah memperkuat portofolio studio game. Xbox akan meninggalkan model pengelolaan studio yang terdesentralisasi dan beralih ke struktur yang lebih terfokus pada waralaba (franchise) terbesar serta proyek-proyek baru yang dinilai paling potensial.
Strategi ini mulai terlihat melalui peningkatan investasi pada franchise seperti Fallout, yang diproyeksikan menjadi salah satu aset utama Xbox dalam beberapa tahun ke depan. Selain pengembangan game, Xbox juga akan memperluas pemanfaatan franchise unggulannya ke berbagai sektor, termasuk film, serial televisi, produk konsumen, sponsor, acara langsung, hingga menjalin kemitraan global, termasuk di pasar China.
Sharma mengungkapkan saat ini sudah ada tiga franchise Xbox yang masing-masing menghasilkan pendapatan lebih dari US$1 miliar per tahun, meski ia tidak menyebutkan judul-judul tersebut. Di segmen game kasual, Xbox berencana memperbesar pangsa pasarnya dengan mengandalkan King, pengembang Candy Crush, serta Microsoft Casual Games.
Sementara itu, Minecraft, salah satu aset terbesar Microsoft, juga akan memperoleh investasi yang lebih besar dibandingkan sebelumnya sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Referensi
https://www.theverge.com/games/973520/xbox-ceo-memo-one-year-growth
